9/21/14

Drama Sekolah

Sebulan terakhir ini rasanya banyak amat dramanya deh. Hahaha... Ada-ada aja gitu. Tapi yang paling menguras emosi adalah tentang sekolah Tara.

Sejak diputuskan Tara gak lagi melanjutkan di sekolah lama berkaitan dengan masalah jarak, lokasi dan eksodusnya semua temen sekelasnya, kami mulai cari-cari sekolah dan menjatuhkan pilihan ke salah satu semi daycare dekat rumah.

Kenapa daycare? Yaaaa pertimbangannya sih gak pengen bikin eyangnya Tara repot, biar mereka bisa lebih nyantai. Yang manaaaaa ya nggak juga. Ujung-ujungnya karena ga dapet jemputan eyang juga deh yang harus anter jemput. Pilihan lain ada di full daycare sebenernya, tapi eyangnya juga yang ga ikhlas *sigh*

Jaman trial 3 hari anaknya happy banget. Sama sekali gak ada masalah sosialisasi. Makin mantep aja lah masukkin ke situ. Ngobrol ama psikolog sekolahnya juga kok kayanya macem sekolah impian kami. Gak ada calistung (penting!), bahasa indonesia full, inklusi, dan bulanannya termasuk murmer buat segala fasilitas yang ditawarkan. Dan uang pangkal bisa dicicil gyahahahaha...

Tapi yaaaa.. Emang klo suatu yang too good too be true itu wajib dicurigai. Satu waktu saya kebetulan pas bisa anter Tara. Ndilalah sampe sekolah gak ada guru sama sekali. Murid ya gak ada yang nyambut di depan macem sekolah pada umumnya. Sampe jam masuk gak ada guru. Wah gak bener banget nih. Dari ibu lain yang juga anter anaknya saya baru tau kalo pihak yayasan ada masalah internal dengan koordinator program. Lhaaa.. Itu sih urusan mereka dong jangan sampe ngorbanin murid. Jadi sehari sebelumnya itu guru-guru resign massal. Nah. Buat saya itu sudah lebih dari cukup untuk langsung mindahin Tara. Hari itu juga saya sempat bicara dengan kepala yayasan dan dapet jawaban ga memuaskan sama sekali.

Hari itu sekolah berjalan tanpa arah. Hanya dibantu seorang bagian tata usaha dan satu orang terapis. Bayangkan saja, mengurus satu kelas yang sebagian besar berisi anak berkebutuhan khusus. Jangan ngomong program, lha wong ngejagain doang aja udah pasti ga kepegang.

Ok. Pindah segera!

Kami gerak cepat. Yangkung banyak bantuin cari info sekolah lain plussss nggebrak sekolah untuk balikin uang pangkal yang sudah terbayarkan (untung masih nyicil dan belum lunas). Rasanya kami berhak protes karena gak sesuai janji awal. Alhamdulillah uang bisa balik sebagian. Sisanya yang ga balik anggap aja uang 'belajar' buat kami.

Jadilah sekarang Tara sudah di sekolah baru. Untungnya anak ini begitu mudah beradaptasi. Gak ada masalah sama sekali. Cuma ibunya aja yang jadi rada drama pas tau anaknya pulang bawa PR *nangis*

Kali ini sekolah ya beneran walking distance. Saya pernah anter sekali dan guru-gurunya tampak care sekali macem di TK Mini Pak Kasur (mengingatnya langsung bikin hati gremet-gremet). Trus, ini adalah sekolah umum, bukan sekolah yang bernafaskan agama tertentu. Saya dan Dhamar masih berprinsip biar Tara tau banyak hal dulu. Agama? Bukan tanggung jawab sekolah tapi tanggung jawab orang tuanya :)

Ideal? Ohhh tentu tidak :)))

Iyesss ada calistungnya, trus diajarin bahasa inggris (pulang-pulang disuguhi anak ngoceh wan, tu, tli, fooo, faif...), ditanya belajar apa di sekolah dan dijawab, "belajar ABC"

*patah hati banget*
*perih*

Yaaaa udahlah ya harus kompromi..

Balik lagi. Anaknya yang njalani biasa aja. Cenderung happy malah bisa punya buku kotak2 dan mainan pensil hahahahaha.. Tentang PR kayanya saya aja yang lebay. Baru sekali doang kok bawa PRnya. Tiap pulang ni bocah ada aja ceritanya dan selalu semangat, "Besok sekolah lagi kan, Bu?"

Jadi saya berusaha berdamai dengan diri sendiri. Sekolah baru ini mungkin ga sesuai dengan harapan kami, orangtuanya. Tapi moga-moga yang terbaik buat Tara kedepannya.

Whoosaaaah....

9/7/14

Pejuang cilik

"Tara, anak yang ikut berjuang sama kita", kata Dhamar di Sabtu siang kemarin saat terjebak macet di motor.

**

Kami berdua ceritanya sedang mengusahakan sesuatu buat tambah-tambahan.  Syukur-syukur bisa serius nantinya.

Namanya usaha tidak selamanya mudah. Cobaan pertama kami dimulai dari rusaknya sampel-sampel kain di tangan tukang jait.  Yang bikin nangis, itu kain dibeli dari nyisihin uang ongkos (udah saya ceritain kan klo lagi super bokek hakhakhak) plus karena ga tega saya tetep dong bayar tukang jaitnya ihikssss...

Ngumpulin uang lagi lah kami.  Sabtu siang kemarin, kami belanja bahan lagi lalu ke tukang jait referensi temen saya di daerah Ulujami. Macet, panas, Tara tetep ikut kami bermotor. Bukan apa-apa, seakan tahu orang tuanya libur dia selalu minta ikut kalo weekend. Saya ga mau mematahkan hatinya, yowis diangkut saja.

Memang benar adanya kalo anak kecil itu ga punya standar tertentu. Buat dia, duduk di emperan kios tukang jait sambil minum teh botol dan makan donat gula udah kebahagiaan tersendiri. Berhenti di Mit*a10 cuma buat nemeni ayah-ibunya yang mau beli keran (yang akhirnya gak jadi karena duitnya ga cukup ahahaha... ) aja udah bak diajak ke mall beneran.

Semoga kamu selalu jadi anak yang kuat, riang hati, sederhana dan rendah hati selalu yah :)

9/6/14

(Fiksi) Saat Ini, Nanti, atau Kapanpun..

Ini adalah pertemuan pertama kami sejak perpisahan itu. Beberapa hari lalu, ia menelponku (dan membuatku hampir menjatuhkan telepon genggamku karena terkejut mendengar suaranya)

"Kinar..."
"Iya", jawabku dengan suara bergetar.
"Ini aku, Bagas", sambungnya.

Ah, tak perlu kamu sebutkan pun, aku tahu itu kamu. Suaramu, masih seperti yang kuingat saat kamu suka meneleponku di saat-saat tak terduga. Hangat dan teduh. 

Kami membuat janji temu, yang entah mengapa langsung aku iyakan. 

Sebuah kedai kopi kecil di ujung jalan, tempat kami dulu biasa bertemu menjadi lokasi yang disepakati. Sekali lagi, aku mengiyakan. Ah, Bagas, kenapa kamu memilih tempat ini? Tempat penuh kenangan manis dan pahit. 

Kami berdua bukan penggemar kopi. Aku sudah jelas langsung sakit kepala kalau mencicipi kopi, sementara ia selalu sakit perut sehabis minum kopi. Tapi tempat ini menyediakan es teh luar biasa nikmat dan kami berdua menyukainya. Es tehnya segar segar sekali, dengan diberikan hiasan batang serai yang juga berfungsi sebagai penguat rasa dan untuk mengaduk, disajikan dalam gelas tinggi besar beserta potongan lemon besar-besar. Rasanya saya tak pernah menemukan es teh lain senikmat yang disajikan di kedai ini.

Sengaja aku datang lebih awal, menunggu di seberang jalan. Tak langsung masuk. Memastikan hatiku cukup kuat untuk bertemu dengannya atau lari sekalian kalau tidak kuat. Sepuluh menit sebelum waktu pertemuan yang disepakati dan belum tampak batang hidungnya. Dari kejauhan, aku melihat tempat yang biasa kami duduki dulu. Bangku kecil di cat putih berbentuk manis, dengan meja kecil yang dihiasi pot kecil berisi kaktus. Posisinya di pinggir dekat dengan jendela besar, sudut favoritmu. Biar bisa melihat orang lalu lalang, katamu. Ah, mengingatnya saja membuat mataku basah.

Sejak perpisahan itu, aku berusaha melupakannya. Sekuat hati bertahan untuk tidak mengangkat teleponnya dan membalas pesan-pesan singkatnya, tak juga mau menemuinya. Bertahan untuk tidak menghubunginya juga sama sulitnya. Tak lagi berani melalui jalan ini, karena tak ingin melihat kedai kopi yang akan selalu mengingatkanku padanya. Dan pada akhirnya aku menghapus semua kontak yang berhubungan dengannya. Bagas pun akhirnya berhenti mencoba menghubungiku. Menyerah? Entahlah, aku tak mau memikirkannya.

"Jangan nangis ya, Kinar", katamu sebelum menutup telepon beberapa hari lalu. Kamu terlalu mengenalku, Bagas. Dan kamu juga pasti tahu kalau aku tak menepati janjiku. Aku nangis sejadi-jadinya malam itu.

***

Teringat pertemuanku pertama dengannya di kedai ini. Suatu sore, aku sedang menunggu teman baikku. Kemudian ternyata temanku yang satu itu tidak bisa datang karena mendadak ada kerjaan yang harus selesai saat itu juga. Ah, daripada kesal, aku akhirnya memutuskan tetap duduk di kedai itu dan menikmati sore sendirian. Aku memesan roti bakar srikaya untuk menemaniku, dan bersiap mengeluarkan novelku dari tas. Roti bakar srikaya itu kelak jadi menu yang selalu kami nikmati seporsi berdua untuk menemani es teh. Entah ada apa, sore itu kedai kopi tersebut sangat ramai, tidak ada meja lagi yang kosong. Sesosok laki-laki, tidak terlalu tinggi, berkaca mata, membawa ransel besar yang nampaknya berat, kuduga ada komputer jinjing di dalamnya, masuk ke dalam, celingak-celinguk mencari tempat duduk dan menuju ke arahku.

"Mbak, maaf. Boleh bergabung?"

Itulah awal perkenalan kami. Rupanya saat itu ia harus mengirimkan dokumen penting dan membutuhkan koneksi internet di kedai itu. Setelah urusannya selesai, kami berbincang-bincang. Mulai dari pertanyaan basa-basi (rumah di mana, kerja di mana) sampai pembicaraan mengalir begitu saja, tanpa sadar sampai pukul 9 malam! Kalau ibuku tidak menelepon mungkin kami akan terus berbicara. Lucu rasanya baru bertemu sama orang tapi rasanya sudah kenal lama, dan bisa mengobrol banyak hal tanpa canggung. Kami berpisah setelah saling bertukar kontak.

Hari-hari setelahnya, hampir setiap hari kami bertukar kabar, bercerita tentang hal-hal yang terjadi sehari-hari. Dan dalam waktu singkat kami menjadi begitu dekat. Rasanya ada yang hilang apabila dalam satu hari saja tidak ada telepon atau pesan darinya. Sapaan pagi darinya selalu menghiasi layar telepon genggamku, dan dirinya pun yang selalu ada di kepalaku setiap bangun pagi.

Bagas pria yang menyenangkan. Tidak pernah bosan ketika bersamanya. Aku menyukainya. Menyukai caranya bercerita dan mendengarkan ceritaku. Menyukai caranya membuat pipiku merah hanya dengan membaca pesan singkatnya. Menyukai cara berbicaranya yang ekspresif.  Menyukai caranya merapikan anak rambut yang menutupi mataku. Menyukai kepanikannya saat satu hari aku tak bisa dihubungi (telepon genggamku ketinggalan di rumah dalam keadaan mati).

Kalau kamu membayangkan pertemuan kami intensif, itu salah. Kami sangat jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Janji-janji temu lebih sering dibatalkan, tapi kami berusaha tidak menjadikannya masalah dan membiarkan berjalan apa adanya. Dan ketika akhirnya ada waktu yang pas, kami selalu memutuskan bertemu di kedai kopi itu. 

Pada suatu pertemuan kami, ia memandangku cukup lama sampai membuatku jengah. Pipiku merah, dan ia terbahak-bahak. Senang sekali ia menggodaku dengan cara seperti itu. Pulangnya, ia mengantarku sampai dapat taksi, sekilas menggandeng tanganku saat menyebrang jalan dan aku tak bisa tidur semalaman. Aku masih ingat hari itu ia pakai kemeja biru muda, bahkan masih ingat aroma tubuhnya saat itu. Harum.

Pada pertemuan yang lain, ia memakai kaos polo biru dan celana jeans. Terlihat berbeda karena terbiasa melihatnya memakai kemeja dan celana bahan. Pulangnya ia merangkul pinggangku sejenak sebelum mengantarku ke mobil. Hanya sekian detik, tapi mampu membuatku mimpi indah malam itu.

Rasanya hanya itu kontak fisik kami, tidak pernah ada yang lebih. Ia menghormatiku. 

 ***

Dari kejauhan, aku melihatnya tergopoh-gopoh memasuki kedai. Langsung nafasku terasa sesak. Berbalut kemeja putih lengan panjang (kamu tau aku paling suka lihat kamu dengan baju ini), dan tetap membawa ransel besarnya itu. Sesaat ragu, apakah akan meneruskan pertemuan ini, atau langsung nyalakan mobil dan pergi.

Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Bagas.

"Kinar, kamu di mana? Aku baru sampai. Maaf terlambat. Kamu ga pulang lagi kan?", ada nada panik di sana.

"Aku, uhm.. masih di parkiran, tunggu."

Sepanjang perjalanan dari seberang jalan menuju kedai yang hanya berjarak beberapa puluh meter, jantungku terasa melorot beberapa senti dan kaki lemas luar biasa. Sempet terpikir untuk lari lagi masuk mobil dan kabur. Aku akhirnya mengabaikan niat itu dan memantapkan hati berjalan masuk kedai.

Kamu berdiri di sana, menyambutku dan seperti biasa, masih senang menggodaku, mengacak-acak rambutku, "Masih pendek aja sih? Kirain lama ga ketemu udah tinggian dikit"

Mau tak mau aku tersenyum, kalau dulu mungkin aku akan merajuk dan meninju halus lenganmu, dilanjutkan dengan pura-pura ngambek.

Kami duduk di sudut favorit dulu. Rupanya Bagas sudah menelepon dan memesan tempat itu terlebih dahulu. Menu yang dipesan tetap sama, es teh manis. Hanya saja kali ini ia bertanya terlebih dahulu apakah aku mau berbagi roti bakar srikaya denganmu. "Nggak, Gas. Kamu aja. Aku sudah kenyang", kataku berbohong (uhmmm sebenarnya jujur sih, aku tidak bisa makan seharian ini memikirkan pertemuan ini).

Tidak banyak perubahan pada dirinya dalam dua tahun, kecuali gurat-gurat halus yang bertambah di sekitar dahinya, serta beberapa helai rambut putih yang mulai kelihatan. Masih ada bintik-bintik sisa cukuran atau memang disengaja tidak bersih, entahlah, dia selalu tahu aku suka dalam keadaan bintik-bintik seperti ini. Tidak bertambah gemuk ataupun kurus. Mata teduhnya, tatapan lembutnya semua masih sama. Harumnya pun masih sama.

"Masih sering ke sini?", kamu berusaha mencairkan suasana.
"Udah ga pernah lagi", kataku sambil memainkan buku menu.
"Aku masih sering datang, berharap ketemu kamu. Tapi sekarang aku tahu alasannya kenapa kita ga pernah ketemu"

Hening lagi. Aku tidak tahu harus berkata apa.

"Kamu apa kabar, Gas?", akhirnya aku berani menatap matanya.
"Baik, Ki. Aku ya gini-gini aja. Ga kemana-mana. Sehat-sehat. Kamu?"
"Iya. Sama"

Ah, rasanya tiba-tiba menyesali keputusan untuk bertemu ini. Karena mendadak tatapanku kabur oleh genangan air mata dan berusaha cari tissue di tas ga ketemu juga.

"Ki, jangan nangis"

Terselamatkan es teh manis yang diantarkan oleh pelayan. Aku berusaha mengalihkan pandangan, memainkan embun di gelas es.

Kenapa? Kenapa kamu mau ketemu aku hari ini?"
......
"Kenapa, Gas?"
"Aku kangen kamu", jawaban singkatmu membuatku tak bisa menahan air mata yang jatuh.

Mendadak kamu pindah duduk ke kursi di sampingku. Hal yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya, dengan alasan kalau berhadapan bisa saling menatap.

"Ki, please, jangan nangis"
"Kamu mau apa, Gas?", suaraku terdengar lirih bahkan di telingaku sendiri

Aku tak kuasa menampik tanganmu yang berusaha menghapus air mataku.

Teringat saat perpisahan kami dulu. Aku menyampaikan bahwa aku tak ingin lagi bertemu dengannya. Aku ingin menjauh. Pergi. Dan memintanya untuk tak menghubungiku lagi. Saat itu mukanya memerah dan hanya menunduk. Apa alasanmu? Katanya ketika akhirnya ia berbicara.

Aku tak pernah bisa menyampaikan kenapa aku meninggalkannya. Aku meninggalkannya karena aku jatuh cinta padanya. Jatuh cinta yang tidak pada tempatnya. Aku memilih pergi, sebelum aku jatuh lebih dalam dan menuntut hal yang sama padanya. Aku pergi hanya agar ia tak merasa terbebani dengan apa yang aku rasakan. Aku tak ingin menemuinya lagi agar aku bisa melepaskan semua perasaanku (dan rasanya gagal).

Dia tak pernah tahu. Tidak akan pernah tahu. Saat itu, aku hanya berjalan meninggalkannya dan memintanya untuk tak mengejarku. Memohon untuk membantuku melupakannya (tak juga dilakukannya karena sampai beberapa bulan ke depan ia masih berusaha menghubungiku)

Hari ini sama seperti dua tahun lalu. Kukira aku mampu menjelaskan alasanku dulu pergi, ternyata tidak juga bisa.

"Bagas, kamu dengar aku", kusentuh tangannya dengan lembut, "Mungkin pertemuan ini adalah suatu kesalahan. Aku tidak siap bertemu denganmu saat ini, nanti, atau kapanpun. Aku pulang. Salam buat Miranti dan Keisha", kataku menyebut nama istri dan anaknya.

9/5/14

Random facts

  • Lagi suka ngebis. Selain memupuk hobi ngelamun gak jelas jd punya quality time lebih banyak ngobrol sama Dhamar.
  • Doa minta pindah duduk dijabah Allah :)) Kemaren2 posisi meja kerja persis di samping ruang presdir dan di depan ruang direktur. Horror kan? Berkat relayout, akuh pindah deket temen-temen rusuh :p
  • Stress banget ama sekolah Tara. Hiksss..  Ada kemungkinan bakal segera dipindahin :(
  • Resto di lobby kantor ternyata jual makanan non halal. Yang lain gak mau lg beli-belibdu situ. Aku tetep dong jajan roti di situ. Kan yang non halal bukan rotinya :p
  • Lagi bokek parah :)) *loh kok malah ketawa*
  • Serius bokek, urusan rumah menguras dompet sampai receh-recehannya. Dulu ga percaya ada temen yang bilang pernah ga ngantor karena ga punya ongkos pas dia lagi renovasi rumah. Kayanya sebentar lagi aku ikut jejaknya :))
  • Denger kabar sedih dari temen deket. Seperti biasa langsung kepikiran sendiri sampe nyesek. Susah ya punya kadar empati berlebih gini --"
  • Dalam beberapa hal udah berlatih banyak untuk berdamai dengan banyak hal. Belajar cuek. Belajar nerima. Ringan yah..

Baiklah kita sudahi kerandoman hari ini :D

9/4/14

Njelimet.

(abis curhat ama temen lama)

"Kebiasaan mikir njelimetmu blum sembuh ya?"

"Emang kamu udah, Mas?"

"Belum juga sih"

:))))

Sama-sama Taurus. Satu cewe, satunya cowo. Sama-sama ribet dan njelimet. But we're still friend dengan cara kami masing-masing. Walopun kadang sama-sama suka ilang biasanya gara-gara musuhan ga jelas :)))

8/18/14

Hello there..

Saya berdiri. Kaget. Dia ada di sana. Sesaat ragu, harus bersikap gimana..

Akhirnya saya hampiri, salaman. Seakan gak pernah ada apa-apa diantara kami. Sesaat saya bahkan lupa bahwa dia pernah mengecewakan saya dan Dhamar pada saat itu.

Sejak kejadian empat tahun lalu, dia benar-benar menghilang. Bahkan tentang pernikahannya dengan seorang pria berkebangsaan asing pun saya hanya dengar sambil lalu dari orang lain.

Kami pernah dekat dan berbagi cerita sampai benar-benar hilang kontak. Tidak juga ada di media sosial. Saya marah. Entah apakah dia tahu saya dan Dhamar luar biasa kecewa saat itu.

Ah.. Sudahlah, kami ikhlas. Tidak ada marah lagi di sana.

Saya salami sebelum berpamitan pulang, sambil berbisik dan menggodanya tentang pembicaraan2 ala cewe yang sering kami lakukan dlu..

"Your hubby looks just like you-know-who"

Ketawa berderai bersama. Dan saya tahu, saya sudah memaafkan.

:)

8/10/14

to let things go..

You will find that it is necessary to let things go. Simply for the reason that they are heavy. So let them go, let go of them..
 
 
Letting go doesn't mean that you don't care about someone anymore. It's just realizing that the only person you really have control over is yourself.

..............

enough said. thank you mbak fe.