4/16/14

Pengemis Palsu

Dalam perjalanan pulang dari sekolah Tara, menjelang masuk komplek tiba-tiba papa menyuruh saya menengok ke kanan dan melihat satu sosok ibu-ibu. Sepenglihatan saya saat itu, ibunya masih muda, kuat, bekerudung, membawa dua kantung besar yang entah berisi apa.

"Kenapa, Pa?" Kata saya.

Lalu papa bercerita, bahwa sehari sebelumnya ketika Papa lagi di beres-beres di depan rumah, Ibu itu datang dan meminta-minta. Saya kaget, "Ibu yang tadi? Bersih banget loh itu ibunya!" Papa mengiyakan. Saat itu papa yang udah kadung trauma dengan peminta-minta macam begitu langsung meminta maaf dan memberikan alasan. Namun Ibu itu masih memaksa, kalau uang tidak ada, bolehlah apa saja seikhlasnya. Papa tetap menolak. Ibu itu lalu berjalan ke tetangga depan rumah saya dan mendapatkan sekitar segelas besar beras yang langsung ditampung dalam kantong plastik yang sudah disiapkan.

Tadi saya bilang papa trauma kan? Nah begini ceritanya. Sekitar beberapa tahun lalu, ada ibu-ibu datang ke rumah bersama anaknya, meminta sumbangan untuk bayaran sekolah anaknya. Komplit ditunjukan kartu SPP-nya sebesar 140ribu rupiah harus dilunasi. Karena tidak ada pikiran apa-apa, ya Papa saat itu bantu sekedarnya saja dengan uang yang ada di kantong celananya saat itu. Selang beberapa bulan kemudian, Ibu itu lewat lagi. Kali ini bahkan bawa kantong belanjaan yang cukup banyak. Pokoknya tampaklah dia habis belanja. Tampaknya ini Ibu kaget ketemu Papa dan jadi kikuk sendiri. Lalu negur Papa dan bilang, "Pak, jangan lupa ya nanti kalo lebaran zakat ke saya"

...
...
...
...

WHAT?!

Baru kali ini ada denger ya orang nentuin kita harus zakat ke mana. Zzzz...

"Papa sih saat itu liat dia kedua kali itu terus terang kesel, wah ngerasa dibohongin. Tapi sudahlah ikhlas kok, semoga uangnya berkah aja buat dia", Kata Papa.

Tiba-tiba hal ini mengingatkan saya akan berita di salah satu situs berita yang menyatakan bahwa sekitar 90% peminta-minta sumbangan untuk mesjid atau mushilla di kendaraan umum adalah bohong. Lalu teman saya komen, amal-nya bagaimana dong kalau sudah terlanjur memberi?

Saya sendiri ga pernah kejebak sama peminta-minta sumbangan macam ini. Saya lebih seneng kasih uang sama pengamen yang jelas-jelas (berusaha) menghibur. Atau sekalian jajan permen atau tissue sama pedagang asongan.

Balik lagi ke bagaimana dengan nasib amal orang-orang yang ketipu? Yang udah bersungguh hati berniat menyumbang? Kalo kata saya sih itu urusan Tuhan huehehe.. Kalo namanya ikhlas harusnya udah ga mikir, abis ngasih bakal dapet amalan atau pahala ga :)

4/8/14

Orang Jawa (Timur)

Keluarga kami boleh dibilang bernuansa Jawa Timur. Papa lahir di Malang dan besar di Surabaya. Sementara mama, walaupun lahir di Jakarta, tapi berasal dari Madiun. Dan mereka ketemu dimana? Hahaha... Kebetulan papa sang anak kos jatuh cinta dengan anak ibu kos di Jakarta. OK ini kok jadi merembet-rembet. Hihihi..

Dalam sehari-hari di rumah, saya dan adik sih sudah terbiasa mendengar percakapan bahasa Jawa. Versi kasar, Jawa Timur-an gitu deh, rada ngoko. Percayalah begitu tadi saya browsing, tingkatan bahasa Jawa itu banyak sekali. Wew. Saya dan adik saya gak ada yang bisa bicara bahasa Jawa, tapi cukup ngerti apa yang sedang dibicarakan mama-papa dan atau kadang perintah keseharian yang suka diucapkan dalam bahasa Jawa ke kami. Tapi ya gitu, kalo bahasa Jawa halus, saya hilang arah, gak paham blasssss... Hahaha. Waktu kecil, mama malah manggil saya "Nduk", sekarang pun kadang-kadang masih.

Betapa bangganya mama-papa akan asal usulnya, sampai-sampai urusan petis pun harus import langsung dari Surabaya sana. Nitip sodara deh. Rasanya hina banget deh kalo beli petis kemasan di supermarket gyahahahaha... Ada cerita lucu tentang petis, suatu ketika kami dapat kiriman petis lima toples. Itu petis diawet-awet dan disayang-sayang, pakenya dikit-dikit dan hanya digunakan untuk momen masak yang aga istimewa. Lalu datanglah tetangga yang kebetulan orang Jawa Timur juga, mau pinjam petis. Iya. Pinjam. Karena kebetulan mereka ada acara dan petis kirimannya belum datang. Kalau sudah datang akan diganti. Mama meminjamkan. Beberapa hari kemudian, datanglah petis pengganti yang ternyata cukup membuat mama kecewa, karena kualitas tidak sebaik yang sebelumnya kami pinjamkan dan sudah diolah pula dengan cara yang berbeda. Sejak itu, mama jadi super pelit, "Gak ada cerita ya, orang boleh pinjem-pinjem petis lagi!" :)))))

Keluarga Dhamar juga berasal dari Jawa Timur, walaupun Ibu lahir dan besar di Jakarta, tapi Ibu fasih berbahasa Jawa versi halus, Sunda, dan Belanda dikit-dikit. Ya tipikal orang jaman dulu lah. Jadi yaaaa, kata papa keluarga kami bagaikan botol ketemu tutupnya (ini beliau ngomong bahasa jawa tapi saya lupa hihihihi...), karena mama dari dulu sering bilang, "Kalo bisa nikah sama orang Jawa yah, biar ga kaget-kaget. Eh Jawa Timur Kalo boleh" (Ibuku rasis!)

Yang lucu, walaupun satu daerah orang Jawa kan kadang punya bahasa yang beda juga. Jadi kadang sama Dhamar itu suka ga nyambung. Gara-gara papa juga kan saya jadi tahu beberapa istilah yang entah emang ada bahasa jawa benerannya atau nggak saya juga ga yakin :)) 

Misal, rombong, ini adalah bahasa papa untuk gerobak. Contoh penggunaannya: Abang gorengannya ga jualan, tadi sih rombongnya ga keliatan.

Lain lagi, dembila', artinya semacam terang benderang banget. Contoh: Ihhh panasnya dembila' banget ya, silau.

Atau, 'keber', yaitu spanduk atau sesuatu yang berkibar-kibar macem di tukang pecel lele itu. Contoh penggunaannya: Keber-nya udah dipasang tuh, ntar lagi buka warungnya.

Itu cuma tiga contoh yang mana setelah kenal Dhamar dia bilang, "Aku ga tau ada bahasa-bahasa begitu, itu beneran ada atau karangan papa sih?" :)))

Nanti kalau ketemu bahasa papa yang lain saya update deh.

3/28/14

Karena ada "hell" di hello dan ada "good" di goodbye

Beberapa waktu liat status facebook sepupu saya yang menurut saya lumayan lucu dan saya edit dikit untuk dijadikan status di whatsapp:

Karena ada "hell" di hello dan ada "good" di goodbye

Berkaitan dengan hal di atas, jadi inget temen yang curhat. Ujung-ujung kami jadi ambil kesimpulan yang tampaknya cukup mengena buat dia...

Setiap ada perpisahan, yang paling menyedihkan ternyata bukan akan adanya jarak hati atau fisik yang terbentang, melainkan sulitnya memaafkan.

Jadi ya saya setuju, bahwa setiap akhir adalah sebuah awal. Hanya saja pada saat itu kita belum mengetahuinya :) *ini dari Criminal Minds juga loh*

Mimpi (paling) Buruk

Semalem (ke)tidur(an) cepet. Biasa deh kalo udah ngelonin Tara, trus Dhamar belum masuk kamar alias lagi sibuk ngoreksi di ruang kerjanya, tau-tau saya bablas aja tidur. Kebangun sekitar tengah malam, sambil nangis tersedu-sedu.

Kok bisa? Iya, abis mimpi paling seram yang pernah saya alami.

Jadi saya mimpi kehilangan Dhamar dan Tara. Pertama Dhamar dulu, entah gimana tokoh utama berubah jadi Tara. Ga mau cerita gimana kehilangannya, karena ini aja masih berasa nyesek nginget-ngingetnya. Mimpinya begitu detail sampai rasanya nyata banget *merinding*. Mungkin karena itu ya saya bisa kebangun sambil nangis. Itu asli nangis beneran karena pake air mata :(

Trus saya nginget-nginget lagi, kenapa bisa mimpi seperti itu. Pasti ada pemicunya. Dan tiba-tiba inget deh, persis minggu lalu saya dapat berita duka cita. Suami dari guru TK-nya Tara meninggal. Saya kebetulan datang melayat dan ikut sampai pemakaman, dan melihat bagaimana bersedihnya seorang istri yang ditinggalkan suaminya. Lebih ngenes lagi mereka baru punya anak kedua berumur 2 bulan :( Saat itu saya langsung mikir jauh, Ibu itu masih muda, bahkan mungkin belum menyentuh usia 30, perjalanan anak-anaknya masih panjang. Kebetulan pula mereka baru pindah ke rumah sendiri, jadi untuk urusan papan mereka sudah tenang. Rejeki anak Insya Allah ada sendiri. Tapi saya tetep ga kebayang rasanya ditinggalkan orang yang dicintai.

Balik lagi. Abis kebangun nangis-nangis, dan diliat dengan heran oleh Dhamar hahaha.. Saya langsung cerita semuanya ke dia, lalu meluk-meluk Tara. Dan saya inget kata-kata yang saya ucapin semalem, "Apa artinya rumah helokiti tanpa Tara? Di mimpiku bahkan aku ga mau punya anak lagi"

Yah abaikan ucapan orang yang setengah nyawanya masih di alam mimpi semalem huehehehe..

Saya jadi inget penggalan lirik lagu If Tomorrow Never Comes. Yah ga gitu nyambung kalo di dengerin total keseluruhan lagunya, tapi diraba-raba sepertinya tentang takut kehilangan..

If tomorrow never comes
Would she know how much i love her
Did I try in every way to show her everyday
That she's my only one

And if my time on earth were through
And she must face this world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

Satu hal lagi yang bisa dijadikan pelajaran dari mimpi semalem: jangan pernah lupa berdoa sebelum tidur. Biar tidurnya tenang dan ga mimpi aneh-aneh heuhuehue...

Have a nice long weekend!

3/24/14

Beberapa waktu lalu, di grup whatsapp yang saya ikuti membahas isu yang cukup sensitif, tentang punya anak. Ada satu diantara kami yang sudah 3 tahun menikah dan belum dikaruniai keturunan, dan lagi (sedikit) curhat colongan. Salah satu member yang 'tidak sensitif' (menurut saya) memberikan saran, kurang lebih semacam, "Berdoa, perbanyak sholat ini itu, minta ampun sama Tuhan, bla bla bla...". Kenapa tidak sensitif? Well, urusan dengan Tuhan menurut saya adalah hal yang individual dan tidak perlu diajarkan. Alasan berikutnya karena ini orang jangankan punya anak, menikah aja belum wuehehehe... Jadi ya asal njeplak aja.

Salah satu member senior menegur cukup keras agar ini anak ga usah sok tahu (dan tampaknya cukup mewakili yang lain yang sebel juga denger komennya), karena menurut si om senior ini, komentar-komentar semacam ini akan semakin membuat tidak nyaman bagi yang mengalaminya.

Saya jadi inget deh, waktu saya keguguran 2x sebelum hamil Tara saya juga cukup sering menerima saran yang alih-alih menenangkan, malah bikin emosi. Seperti, "Kok bisa sih keguguran lagi? Emang ga dijaga?", atau "Kecapekan ya? Makanya gak usah kerja dehhh", duh pertanyaan macem gini tuh udah berkali-kali banget deh nerimanya. Rasanya pengen jambakin satu-satu.

Tapi itu semua gak ada apa-apa dibanding sms dari ipar, "Mesti banyak sedekah, biar dikaruniai keturunan, selama ini kurang kali"

...
...
...

Langsung ambil telpon, ngamuk!

Kembali lagi, buat saya urusan dengan Tuhan adalah pribadi sekali. Tidak perlu diumbar kemana-mana. Kalaupun saya sedekah, itu urusan saya, bukan dia. Udahlah itu hati masih sedih abis kehilangan, diginiin makin terluka, bak luka dikucuri garam dan jeruk nipis *lebay* 

Jadi ya, menurut saya yang kebetulan mengalami sendiri, kalau ada orang yang sedang berusaha memperoleh keturunan, dikasih saran dengan cara nyerempet ke masalah keimanan seseorang sangat tidak pantas. Saya pribadi lebih seneng kalau didoakan saja, "Wah, semoga segera ya, ikut doain!" atau "Kalau kabar baiknya sudah datang, kabari ya!", dan ucapan-ucapan positif lainnya. Percayalah, itu sangat membantu :)

3/20/14

Galau TK

Sekarang Tara itu duduk di playgroup besar, berarti tahun ajaran baru ini harusnya Tara TK A. Nah, saya dan Dhamar sih belum yakin antara lanjut TK A atau ngulang lagi aja di playgroup besar, karena umur yang rada nanggung. Kebetulan pas Tara masuk PG kecil pertama kali itu belum genap 2 tahun.

Kalo sekilas aja tampaknya dia sih bisa-bisa aja ngikutin. Dan anggapan bahwa kalau sekolah terlalu dini nanti anaknya bosen gak berlaku di Tara. Kenapa? Karena sekolah yang sekarang ini menurut saya waktu belajarnya pas lah buat seumur dia. Waktu PG kecil aja cuma seminggu sekali, sejam. Sekarang seminggu dua kali, masing-masing juga cuma sejam. Jadi anaknya pun menanti momen-momen sekolah dengan semangat.

Kemarin sempat ngobrol sama gurunya Tara. Kebetulan saya sedikit khawatir sama perkembangan dia, biasa deh kalo ngebandingin ama anak orang lalu khawatir kan, nih anak gw udah di jalan yang benar belum ya? Hahaha.. Tau sih salah. Tapi rasanya manusiawi banget deh *pembenaran* :)) Kalo di rumah, stimulasi Tara ya gitu-gitu aja, mewarnai tampaknya dia ga hobi, cepet bosen. Coret-coret sih suka, bisa lah dia menyambungkan titik-titik sampai jadi berbentuk huruf. Ngitung, okelah, walopun saya ga pernah secara serius ngajarin angka, tapi beberapa angka dia tau.

Dari hasil ngobrol-ngobrol itu, saya sebenernya naksir masukin Tara TK disitu juga. Abis gimana ya, gurunya udah kenal semua, dan emang suka banget dari awal dengan systemnya. Saya tanya, apakah lulus dari TK nanti bisa baca? Karena jujur aja, mau ga mau hal ini jadi kepikiran karena kebanyakan SD mensyaratkan hal ini buat tes masuk. Kata gurunya, iya bisa. Lalu kok malah jadi khawatir deh, saya tanya lagi kapan mulai diajarkan? Jangan sampe dari sepiyik ini udah diajarin baca. Ternyata baru diajarkan pas TK B. Sampe TK A saja hanya akan baru mulai belajar angka 1-6. Oalahhh.. Saya kira PG ini udah belajar angka toh.. Mereka baru belajar ngitung aja, angka belum diajari. Baiklah, ga bole iri ama anak temen yang bisa 1-20 deh, lha wong emang di sekolah belum diajari :p Jadi rasanya saya ga salah-salah amat ngenalin angka ke Tara dari speedometer motor hahaha..

Kata bu guru lagi, yang menyebabkan guru jadi memberikan 'tambahan' pelajaran ke anak sesuai yang seharusnya justru dari orangtua murid. Misal, "Bu, ini anaknya nanti mau tes masuk SD ada tes ini itu, tolong diajarin". Padahal mungkin itu materi tidak diajarkan di sekolah yang ini.

Lalu galau-nya dimana? Hauhauhau... Sejak pindah lokasi itu kan sebenernya saya sedih banget, udahlah makin jauh, sekolah jadi ga punya halaman, murid makin dikit. Dan belakangan baru tau temen sekelas Tara rata-rata pada melanjutkan TK di tempat lain. Tinggal berdua yang masih galau termasuk saya hihihi..

Sementara, TK yang walking distance di sekitar rumah, hadeuhhh... Saya ga sreg sama sekali, sampe ga pengen survey sedikitpun. Udah underestimate duluan. Yang baru diintip cuma satu, yang daycare itu. Itupun saya masih setengah hati, karena kayanya modelnya rada keras dan disiplin. Well, dalam beberapa hal ini positif, tapi takut Tara-nya susah adaptasi karena biasa di lingkungan yang 'lunak'.

Ini udah bulan Maret dan semoga segera bisa memutuskan mau kemana Tara abis ini heuheuheu..

3/17/14

Pulang kerja jalan kaki berdua, dari Jl. Veteran ke Jl. Medan Merdeka, setelah makan es krim jadul yang entah kenapa sekarang saya ga inget namanya. Lalu foto-foto di trotoar, di bawah lampu jalan yang berwarna kuning.

Blusukan ke Pasar Senen, nyari baju vintage, lalu bersin-bersin ga karuan karena debunya :)

Tiba-tiba merencanakan ke Bogor, pengen jajan doang tapi tetep mampir ke Kebun Raya, cuma mau foto-foto ga jelas. Lalu ngganyem sampe kembung di Surya Kencana, mulai dari soto kuning sampai taoge goreng pertama kalimu

Oh, paling inget sih muka sumringahmu waktu diajak ke warung gudeg depan terminal Manggarai. Menatap satu baki berisi bacem jeroan hahaha..

Inget waktu kita jalan kaki dari UI Salemba ke rumah manggarai? Aku yang ga pernah olahraga ini kram kakinya dan kamu panik, lalu pijet2an di pinggir jalan, merelakan sendalmu untuk aku dudukin. Oh, that was the first time i realized falling in love with you :)

Nonton pertama berdua di TIM, bahkan filmnya pun aku ga inget. Cuma inget kamu datang berseragam safari biru, seragam mengajar. Pengen ketawa tapi gengsi. Jadi aku tetep diem-diem dan ga mau terlihat terlalu antusias.

Sejak itu, ketika resmi pacaran kita jadi sering kencan di TIM. Bukan kencan berbudaya sih haha.. Karena cuma nonton bioskop, lalu nongkrong makan bebek madura di emperan teras depan TIM. Atau makan di tenda-tenda depan Cipaganti, bakmie roxi dan es teler.

Awal-awal kenal sushi, kita suka nongkrong di Sushi-Ya, Tebet. Sambil menghayal suatu saat nanti bisa seperti sang empunya yang selalu kita liat kehadirannya tiap makan disana. Punya warung kecil dan ramai. Tempatnya sempit, tapi itu alasan kita buat duduk dempet-dempetan kan? :)

Ehhh, ga lupa kita pernah pura-pura kaya waktu kamu dapat kesempatan jadi mysterious buyer untuk makan buffet di hotel bintang 5. Beberapa kali dapat kesempatan itu, seru banget dandan cantik-cantik, makan enak, gratis pun :)

Inget deh, bela-belain nunggu sampe jam 8 malem, cuma buat nikmatin gudeg lesehan di blok M. Ternyata mereka sudah di lokalisasi dan baru gelar dagangan jam 8. Seru yaaaa...

Bakwan Malang Cak Man Tebet, bangku sisi kiri no dua dari pintu. Jadi saksi kamu melamar aku secara resmi dengan kalimat, "Kapan ya aku bisa ngomong ke papa kamu? Mau minta kamu secara resmi nih" (diucapkan sambil ngunyah bakso) :) Cukup garing hahaha... Kenapa di warung bakwan? Bukan di resto di puncak gedung dimana kamu akan melamarku dengan cincin dan berlutut. Entah, tapi rasanya tetep bahagia.

Semua itu berawal dari lorong berdebu sebuah supermarket yang belum buka. Sms-sms kita. Jaket kamu yang aku pakai. Dan, ketika kamu tidak pernah menyerah ketika aku bilang, "Aku ga bisa sama kamu..." :)