7/9/14

(Hampir) Golput

Percaya atau tidak, kalau saya baru menentukan pilihan untuk nyoblos itu baru kemarin. Iya di hanya dalam hitungan jam menjelang pilpres. Bukan bingung milih no.1 atau no.2. Tidak. Sebab kalaupun hanya dua pilihan itu, sudah jelas saya akan pilih ke mana.

Pilihan saya: Golput atau tidak.

Dari awal ada sih kecenderungan milih ke arah mana tapi saya ga sreg sama wakilnya. Gimana dong kalo ga sesuai kata hati, masa mesti maksa. Tidak seperti pemilu legislatif yang jelas saya tahu mau milih partai yang mana, partai yang baru sekali ikut pemilu dan ternyata at the end perolehan suaranya lumajen. Partai loh ya, orangnya mah tetep capcipcup, milih yang cewek, muda, dan namanya eye catching. Hahaha... Cetek.

Beberapa faktor sih akhirnya membuat saya menentukan pilihan. Selain editorial Jakarta Post, debat terakhir (dan satu-satunya yang saya tonton dengan penuh - karena debat cawapres sungguhlah mengecewakan buat saya jadi ga nonton sampe abis), dan finalnya adalah sms tak layak baca dari salah satu kandididat pada masa tenang. OK itu sudah cukup buat saya untuk tau milih yang mana.

Persoalannya bukan lagi sreg ga sreg dengan kata hati. Tapi saya memilih untuk memastikan, semoga suara saya cukup berharga untuk berkontribusi agar kandidat yang satu itu gak menang, karena walopun ga sreg dengan pilihan saya, lebih ga ikhlas lagi kalo yang satunya menang. Another alasan cetek? Biarin deh :)

Selamat memilih. Apapun pilihanmu.

6/29/14

Tetangga oh tetangga...

Sampai saat ini kami memang belum menempati rumah helokiti. Selain karena dapur masih beratap langit dan berlantai tanah, kami belum mengisi apa-apa yang rasanya cukup esensial untuk sebuah rumah dapat ditinggali. Biasanya kami berkunjung di akhir pekan, sekedar tidur siang dan beres-beres. Apabila sedang tidak sering hujan biasanya di hari kerja sore-sore ya dateng untuk siram-siram tanaman.

Jumat kemarin ini, saya ngedrop Dhamar dan Tara ke rumah lalu saya langsung berangkat kerja. Dhamar kebetulan lagi libur selama sebulan (ini ditulis dengan penuh iri hahaha...). Sampai sana saya cukup kaget karena menemukan di carport kami ada mobil yang jelas bukan milik kami sih hiyahahaha... Terus terang cukup terganggu sih, itu halaman kami, di tanah kami. Bukan parkir di depan halaman loh, beneran dia masuk carport. Lalu saya inget bahwa ini adalah kali kesekian, dan sampai Dhamar meninggalkan rumah juga sang empunya mobil tak kunjung datang.

Kalau pakai ijin mungkin saya akan lebih bisa menerima. Ini gak loh. Dan saya tau ini oknumnya adalah pemilik rumah depan. Hal pertama yang melintas di kepala saya adalah, apabila ada kejadian apa-apa terhadap mobilnya, saya takut aja disalahkan. Masalahnya itu beneran ada di halaman kami. Lalu.. SAYA PARKIR DIMANA DOOOOOONG KALO ADA MOBIL ITUUUUU DI CARPORT SAYAAAA?!?!?!?! Ya masa saya ngalah parkir di jalan, yang bener aja. Iya sih saya cuma parkir motor, bukan mobil hikss.. Masa tiap saya dateng saya mesti ketok-ketok minta mereka keluarin mobil sih :(

Jadi begini... Beliau parkir di carport kami itu bukan karena carportnya penuh mobil. Bukan. Cuma penuh pot, bangku plastik, rak sepatu. GILA KAN. Sementara, rumah beliau di hoek, bisa banget loh parkir di samping dan di depan rumahnya kalo emang ngebelain pot kembang sampe segitunya. Dan ga ngerti kenapa ya, carport kami bahkan tak berkanopi seperti milik beliau loh..

Sore tadi kami mampir lagi dan menemukan mobil tersebut masih parkir di carport kami *sigh*. Dengan muka lempeng dan pura-pura gak tau, saya sok-sok nanya ke tetangga sebelah yang kebetulan di luar, "Mas, ini mobil siapa ya?". Si Mas kebetulan gak tau, karena dia juga belum menempati rumah. Lalu ucuk-ucuk-ucuk, si ibu, empunya mobil keluar rumah dan ngomong, "Maaf ya mba, lama ya ga kesini, udah sebulan?".

YA TROOOSSS KALO KAMI JARANG DATENG SITU BOLEH MASUK PROPERTY ORANG TANPA IJIN?!?!?!

Saya cuma kasih tatapan, dan jawab, "Saya tiap minggu dateng. Jumat kemarin juga." Lalu masuk rumah sementara beliau mengeluarkan mobilnya.

Geram deh rasanya.

Ini saya masih kasih satu kesempatan lagi sebelum menegur. Kalau sampai kejadian lagi saya akan tegur dengan cukup keras.

Kalau saya emosi wajar kan yah? kan? kan?

Lebih emosi lagi pas tau bahwa... DIA PUNYA RUMAH LAGI DONGGG DAN CARPORTNYA KOSONGGGGGG. Jadi pas tadi mau balik, saya muter sebentar dan baru ngeh pas lewat salah satu rumah, loh kok ada mobil si ibu? Trus inget kata marketing developer bahwa ada yang membeli dua rumah sekaligus, dan ya si ibu itu... *KAMEHAMEHAAAAAAAAAAAAA..

Ya emang sih dari rumah depan itu lebih deket parkir di rumah saya daripada ke rumah dia satunya yang mesti jalan sekitar 1-2 MENIT DULU. 

Sampe rumah curhat dong sama papa. Kata papa yaudah, dia cari adem aja kali parkir di bawah pohon mangga (milik tetangga yang cukup menaungi halaman depan rumah kami juga). Pas saya kasih tau bahwa itu mobil MASUK carport kami, papa baru sadar.. LHA KOK, ITU SIH NAMANYA SEMBARANGANNNN...

Jadi enaknya pasang meteran parkir atau pasang pos secure parking aja nih di carport kami?

6/13/14

Cerita Perempuan dan Jendela Besar

Perempuan itu jatuh cinta kepada jendela kaca besar. Jendela yang berada tepat di sisi kanan meja kerjanya. "Ini bukan jatuh cinta pada pandangan pertama, karena aku sadar aku jatuh cinta padanya saat hujan turun", Katanya sambil tergelak.

Pernah satu waktu, aku melihatnya hampir tak berkedip saat hujan turun. Perlahan-lahan ia bangkit dari kursinya, menyentuh butiran-butiran air yang menempel di jendela. Seakan-akan tangannya menyentuh air hujan. Lalu ia berbalik dan bertanya, "Ini jendela ga bisa dibuka ya, Mas?". Gila, pikirku. Ini kami bekerja di lantai 18 di sebuah gedung berlantai 45. Apa jadinya kalau dalam hujan sederas ini jendela-nya dibuka?

Aku tak pernah mengerti kegilaannya terhadap jendela itu. Semua jendela sama, sakit jiwa kamu jatuh cinta pada benda yang jangankan membalas cintamu, membalas sapamu saja tidak mungkin, kataku suatu waktu. Dan hal itu membuat ia marah dan tak mau bicara padaku selama berbulan-bulan. Kemudian seperti biasa, ada masanya perempuan itu berbicara kembali denganku, seakan-akan tidak apa-apa. Akupun memilih tidak membahasnya lagi.

Tiga tahun kerja bersama, dan ia pergi untuk kesempatan yang lebih baik. Meninggalkan jendela itu. Di hari terakhirnya, ia berdiri cukup lama di depan jendela seperti mengucapkan selamat tinggal. Kulihat bulir air mata yang jatuh.

Hari-hari tanpanya sungguh menyiksa. Setiap hujan turun, aku teringat padanya. Pada binar matanya menatap bulir-bulir hujan yang menempel pada jendela, dan pada hal yang selalu ia ucapkan. "Buka jendelanya aja yuk!". 

Sesekali aku duduk di mejanya yang hanya berjarak lima meter dari tempat kerjaku, sambil membayangkan perempuan itu memandang jendela. Mencoba merasakan apa yang perempuan itu dulu rasakan. Begitu caraku berusaha mencairkan rindu padanya.

Beberapa kali perempuan itu menghubungiku sekedar bertukar kabar. Tak pernah lupa ia selalu bertanya, "Jendela itu apa kabar, Mas? Aku rindu.." dengan suara bergetar. Dan hatiku bergetar, menyesali, mengapa aku tak pernah bisa jadi seperti jendela itu. Menjadi yang dirindu olehnya.

Jendela itu masih ada di sana. Walaupun pemiliknya telah berganti-ganti. Namun satu yang pasti, hujan akan tetap turun di manapun. Kamu pasti akan bisa menemukan jendela yang lain.

Jawabku.

5/25/14

Double Three!

Beberapa minggu lalu, tepatnya tanggal 14 Mei, saya resmi ulang tahun ke 33. Oh tua yaaa.. Hahaha.. Tapi belum ada uban sih *lirik Dhamar*

Beberapa menit sebelum tanggal 14, memang kebetulan saya dan Dhamar belum tidur, lagi nonton TV, Tiba-tiba dia ndusel-ndusel dan ngucapin selamat ulang tahun. Cencunya saya protes, lha wong belum resmi ultah kok yaaa.. Dan dijawab dengan, "Aku udah ngantuk, mau tidur, ga kuat nungguin jam 12" Eyalahhh :))) Jadi maksudnya pengen jadi yang pertama ngucapin toh. Dan besok paginya beneran loh dia ga ngucapin lagi :)))

Jadi, hari itu adalah hari pertama di kantor baru. Oh well, bukan resmi hari pertama, hari ketiga tepatnya, cuma 2 hari sebelumnya orientasi di lokasi yang berbeda. Jadi hari itu resmi di lokasi saya ditempatkan. Sampe meja, sudah ada hotchoco starbux beserta note dari bos, semacam welcome drink gitu. Uwuwuwuw... Manits ya? NOT! Karena satu jam setelah saya berusaha habiskan saya mabok. Pernah cerita kan kalo saya mabokan, dan coklat salah satu penyebabnya. Tapi ya, om bos ga salah sih, dia tetep manits dan baik, ya kali dia tau saya kampungan gitu. Next akan mulai sounding-sounding jadi ga dibeliin lagi *geer banget ini*

Salah satu teman saya pernah bilang, usia 20-30 akan berlalu dengan sangat cepat dan tau-tau akan berada di 30 sekian. Kok ya bener banget ya.. Mungkin sebenernya bukan cepet, tapi kitanya menikmati sekali dan emang banyak milestone-milestone penting hidup yang terjadi di usia segitu. 

Umur 33 ini rasanya apa ya? Hmm.. Ya biasa aja sih. Kecuali merasa semakin tua yah :p Masih banyak hal-hal yang belum tercapai, tapi saya belajar untuk tidak lagi memasang target dalam hal-hal tertentu. Let it flow and just enjoy the process, in good and bad times. Saya juga melepas hal-hal yang memberatkan kepala, karena akhirnya mikir juga sih ga penting nyimpen-nyimpen hal yang melukai hati sementara banyak yang bisa disyukuri dan disimpen di kepala untuk diingat yang manis-manisnya.

Dan menjadi 33 tahun bersama keluarga yang menyayangi dan menerima saya apa adanya, adalah hadiah yang tak ternilai :)

Baru ngepreview postingan semalem dan baru ngeh kalo hasil ngetik di word atau email atau apalah lalu dipindah kesini jadi berantakan -_____- segala ada background-nya lah. Lalu ga bisa dibenerin. Coba di copy ke tempat lain, di delete postingan, di paste lagi di sini. Malah jadi ga karu-karuan. Ah ya sudahlah bodo amat..

Mungkin sudah saatnya pindah ke wordpress atau yang lain zzzzz.... Cari tau dulu deh.

Modus Jaman PDKT

Saya cukup sering pakai jaketnya Dhamar. Abis enakkkk, bahannya lembut, kalo buat bermotor ga sumuk dan cukup menghangatkan kala dingin. Plus ada cappuchon-nya, nilai plus banget. 

Tiba-tiba inget, jaman pdkt dulu Dhamar pernah yang sok-sok perhatian, minjemin saya jaketnya. Jaket super tebal, pas banget buat kerja di shift 3 jaman jd jongos buka toko dulu hahaha.. Gara-gara dipinjemin sekali, tiap lagi bareng satu shift saya suka pinjem. Hahaha.. Modus? Yah ngga tau juga sih, yg dipinjemin mah seneng-seneng aja, sang empunya pun jadi ada alasan ketemu buat minta jaketnya.

Modus pdkt dengan pinjem-pinjeman barang ini pernah kejadian jg sebelumnya. Jadi inget deh pas SMP, pernah suka minjem buku catetan anak sekelas yang pinter dan saya suka. Jadi ada alasan balikin. Ga tanggung-tanggung, saya dateng ke rumahnya, naek sepeda. Dan kalo itu masih dibilang kurang niat, saya sampulin manis dong bukunya. Trus endingnya ya ga jadian sih, anaknya entah ga nangkep atau emang ga suka sama saya, malah jodoh-jodohin saya sama sahabatnya (dan terus saya jadian sekitar 3bulan saja, cinta monyet-monyetan ahahaha..)

Pas SMA, mirip sih ceritanya. Bedanya kali ini, buku catetan saya yang dipinjam. Tiap hari. Bahkan ketika besoknya ada ulangan. Jadi si cowo ini ada kesempatan nelpon lama dan belajar bareng di telpon, dia sambil bacain catetan saya. Modus pinjem-pinjeman buku ini berlanjut sampai akhirnya jadian. BUAT NGUMPETIN SURAT CINTA AJA GITUUUUU TUH BUKUUU :)))))) Malemnya di telpon ngomong, "Besok kamu pinjem buku aku ya, ada suratnya buat kamu" dan ketika buku dibalikin ada balesan suratnya. Juga buat tuker-tukeran foto. Iya ini sekalian aja buka aib. BUKA SEMUAAAA :))))

Sebentar ya, saya jijik sendiri ini nulisnya..

Hahaha..


Jaman dulu itu hal-hal sederhana seperti itu rasanya sudah manis. Jaket yang dipinjemin suka saya endus-endus, kalo dipake berasa dipeluk. Buku yang saya bawa pulang juga dibawa tidur. Masa-masa ketika bahagia lahir dengan mudahnya dari hal-hal yang sederhana :)

5/24/14

Saya sebenernya termasuk orang yang cukup dendaman. Susaaaah banget bisa baikan sama orang kalo udah dibikin kecewa. Kalaupun akhirnya bisa memaafkan, keseringan saya sulit sekali untuk bisa melupakan apa yang telah terjadi. And it hurts a lot..

Belakangan saya cukup bisa belajar bahwa melupakan itu jauh lebih baik dan lebih enak ketimbang sekedar memaafkan. Yah hal-hal yang bikin sedih dianggap aja gak pernah ada. Orang yang mungkin sudah buat kecewa ya dilupakan saja sekalian. Dibanding ngakunya memaafkan tapi yo ujung-ujungnya masih suka nyesek sendiri kalo diinget-inget. Gak kenal sekalian lebih baik, yang penting ikhlas.

Yang lebih gila lagi, kadang-kadang orang yang saya anggap sudah cukup bikin saya kecewa bahkan gak tau apa-apa, ga ngerti kalo dia udah bikin saya sebel setengah mati. Hobi sih mendem-mendem sendiri trus ujungnya kesel sendiri hahaha... 

Hahahahaha.. Baca ulang tulisan di atas, iki ra jelas blassss... Abis ya tadi udah kebayang mau posting ina-itu, eh internetnya rese. Begitu udah bener, udah kadung ga napsuuuu...

Nyampah abis :))))